<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP)&#187; Article</title>
	<atom:link href="http://www.wcsip.org/category/article/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.wcsip.org</link>
	<description>saving wildlife and wild lands</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Jun 2010 05:04:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Anoa: Si Kerdil yang Agresif</title>
		<link>http://www.wcsip.org/anoa-si-kerdil-yang-agresif/</link>
		<comments>http://www.wcsip.org/anoa-si-kerdil-yang-agresif/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 04:33:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wpnuwcsip/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[Ada empat jenis hewan dalam genera Bubalus yakni kerbau (water buffalo, Bubalus bubalis), tamaraw (B. mindoroensis), anoa gunung (B. quarlesi) dan anoa dataran rendah (B.&#160;&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada empat jenis hewan dalam genera Bubalus yakni kerbau (water buffalo, Bubalus bubalis), tamaraw (B. mindoroensis), anoa gunung (B. quarlesi) dan anoa dataran rendah (B. depressicornis). Ada ahli yang menginginkan agar anoa diklasifikasikan kedalam genera tersendiri. Anoa adalah kerabat dekat sapi dan kambing. Kerbau tersebar luas di dunia. Tamaraw hanya ada di Pulau Mindoro, Filipina. Anoa hanya ditemukan di Sulawesi tapi anda bisa melihat anoa migran di San Diego Zoological Garden.<span id="more-236"></span></p>
<p>Panjang tubuh anoa 160-172 cm, ekornya 18-31 cm. Ukuran tubuh yang kerdil menjadi daya tarik anoa. Anoa gunung biasanya berukuran lebih kecil. Rata-rata tinggi badan anoa dewasa hanya 75 cm. Ada yang hanya 69 cm tapi ada mencapai 106 cm. Berat badan anoa 150-300 kg. Anak anoa berbulu tebal warna coklat kekuningan. Semakin tua, anoa semakin tidak berbulu dengan warna kulit coklat gelap sampai hitam. Anoa jantan berwarna lebih gelap.</p>
<p>Anoa hidup sampai 25 tahun. Masa kehamilan 300 hari dan biasanya hanya melahirkan 1 anak setiap 2 tahun. Anak anoa meninggalkan induknya setelah berusia 3 tahun lalu memasuki masa puber. Anoa betina sering bersama 2-3 ekor anaknya yang berbeda umur. Anoa jantan lebih sering menyendiri dan cenderung agresif terhadap anoa jantan lain. Anoa memakan tumbuhan tertentu berupa rumput, herba, perdu dan paku-pakuan. Anoa membantu penyebaran beberapa jenis tumbuhan asli Sulawesi yang bijinya tidak beradaptasi untuk tersebar luas.</p>
<p>Anoa sudah semakin langka dan menuju ke kepunahan. Kelangkaan anoa disebabkan oleh dua hal yakni perburuan untuk konsumsi dan perusakan habitat. Dulu hutan-hutan di Minahasa (mulai dari Likupang sampai Poigar) didiami oleh anoa, sekarang anoa telah punah dari sana. Sterilisasi anoa dari tanah kelahirannya sekarang ini masih terus berlangsung padahal anoa adalah satwa yang dilindungi undang-undang Indonesia. Oleh organisasi konservasi internasional IUCN, anoa diklasifikasikan endangered dan oleh CITES anoa dimasukkan dalam daftar perlindungan tertinggi di appendix 1. Walaupun memprihatinkan, populasi anoa bisa ditemukan di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.</p>
<p>John Tasirin<br />
Sulawesi Program Coordinator<br />
WCS Indonesia Program</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wcsip.org/anoa-si-kerdil-yang-agresif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konservasi Keanekaan Hayati Sulawesi dalam Konteks Sulawesi Utara</title>
		<link>http://www.wcsip.org/konservasi-keanekaan-hayati-sulawesi-dalam-konteks-sulawesi-utara/</link>
		<comments>http://www.wcsip.org/konservasi-keanekaan-hayati-sulawesi-dalam-konteks-sulawesi-utara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 04:32:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wpnuwcsip/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Kekayaan Hayati Sulawesi
Sulawesi adalah pulau yang sangat berharga bagi konservasi biologi karena memiliki tingkat endemik yang tinggi. [Catatan: Jenis endemik Sulawesi berarti hanya ditemukan&#160;&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kekayaan Hayati Sulawesi</p>
<p>Sulawesi adalah pulau yang sangat berharga bagi konservasi biologi karena memiliki tingkat endemik yang tinggi. [Catatan: Jenis endemik Sulawesi berarti hanya ditemukan di Sulawesi, secara alami tidak ditemukan di tempat lain di dunia ini]. Ada 165 jenis hewan mamalia yang endemik Indonesia, hampir setengahnya (46%) ada di Sulawesi.  Dari 127 jenis mamalia yang ditemukan di Sulawesi, 79 jenis (62%) endemik. Hanya di daratan Sulawesi tercatat ada 233 jenis burung, 84 diantaranya endemik Sulawesi. Jumlah ini mencakup lebih dari sepertiga dari 256 jenis burung yang endemik Indonesia. Sulawesi didiami oleh sebanyak 104 jenis reptilia, hampir sepertiganya atau 29 jenis adalah jenis endemik. Itu berarti, dari 150 reptilia yang tercatat endemik di  Indonesia, seperlimanya ada di Pulau Sulawesi.<span id="more-234"></span>Semenanjung utara Sulawesi (tanah Minahasa, Totabuan dan Gorontalo) merupakan kawasan terpenting di Sulawesi. Kawasan ini didiami oleh 89 atau sekitar 86% dari 103 jenis burung endemik di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya. Pernahkah anda membayangkan bahwa ada sebanyak 38 jenis tikus endemik Sulawesi. Hampir setengahnya (45%, 17 jenis) ada di semenanjung utara Pulau Sulawesi. Semenanjung utara ini juga menjadi rumah dari 20 jenis kelelawar buah endemik Sulawesi. Itu berarti, sebagian besar (atau lebih dari 83% dari 24 jenis) kelelawar endemik Sulawesi terdapat di kawasan ini.</p>
<p>Sulawesi memiliki sejumlah satwa endemik yang menakjubkan, Hanya beberapa diantaranya yang akan disajikan disini. Maleo (Macrocephalon maleo) menimbun telurnya di dalam tanah dan dierami oleh panas bumi atau matahari (Gambar 1).  Babirusa (Babyrousa babyrussa) memiliki dua cula yang mirip gading pada gajah (Gambar 2). Cula ini adalah taring, bagian dari geligi atas pada masa muda yang kemudian bertumbuh dan menembus moncong atas lalu melengkung ke arah mata. Yaki utara, the crested black macaque, (Macaca nigra) adalah primata terbesar di Sulawesi (Gambar 3). Yaki betina yang lagi “giang” tidak dapat menyembunyikan hasrat seksualnya karena bagian “pongo-pongo” pantatnya membengkak berwarna merah. Anoa (Bubalus spp.) adalah kerbau katai yang pada saat berdiri hanya mencapai tinggi satu meter dari tanah ke punggung (Gambar 4). Kuskus (Ailurops ursinus dan Stigocuscus celebensis) adalah jenis marsupial (hewan berkantong) yang berkerabat dengan kangguru di Australia (Gambar 5). Tidak ada marsupial yang ditemukan di seberang pantai barat Sulawesi. Sebaran marsupial berhenti sampai di Sulawesi. Musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroeckii) adalah hewan karnifora (pemakan daging) berukuran besar yang paling misterius di dunia. Tidak banyak dokumentasi gambar dan tulisan tentang satwa yang aktif di malam hari ini. Semua satwa ini bisa ditemukan di semenanjung utara Sulawesi.</p>
<p>Ancaman terhadap kelestarian</p>
<p>Populasi satwa-satwa asli Sulawesi sedang menuju ke kepunahan karena berbagai ancaman. Ada 81 jenis burung, mamalia, reptilia dan ampibi Sulawesi terdaftar dalam Red List of Threatened Animals yang diterbitkan oleh World Conservation Union (IUCN, www.iucn.org). Perburuan dan perusakan habitat merupakan ancaman serius bagi satwa-satwa asli Sulawesi ini. Perburuan menjadi marak karena orang Sulawesi memakan satwa-satwa ini. Namun konsumen terbesar ditemukan di Tanah Minahasa dan Totabuan. Sudah menjadi hal yang lumrah di sana bahwa orang makan tikus, paniki, yaki dan tuturuga. Tapi kalau ada, babi hutan, kuskus, musang, anoa, babirusa juga disikat rata (Gambar 6-11). Semua satwa asli Sulawesi ini bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional di tanah Minahasa. Pasarnya ada Minahasa, sumbernya ada di Bolmong dan Gorontalo. Telur Maleo menjadi sasaran pencurian karena banyak orang menjadikan telur maleo sebagai lauk.</p>
<p>Usaha Konservasi</p>
<p>Penangkapan satwa dan perusakan habitat satwa adalah perbuatan melanggar hukum dan memiliki sangsi pidana. Menahan satwa untuk dijadikan hewan peliharaan juga melanggar hukum dengan sangsi pidana yang cukup serius. Hukum Indonesia melindungi jenis-jenis langka ini karena populasi satwa-satwa ini yang menukik tajam, menuju ke kepunahan. Usaha penyelamatan satwa-satwa sulawesi ini bisa dilakukan dengan menegaskan penegakan hukum bagi para penjahat lingkungan, menghentikan penebangan (legal maupun illegal) di hutan-hutan yang menjadi habitat satwa langka, menghentikan perburuan, menghentikan kebiasaan memakan satwa liar, dan berpartisipasi aktif dalam usaha restorasi habitat dan pembiakan satwa secara alami.</p>
<p>Wilson dkk dalam edisi Nature Vol 440, 16 Maret 2006 bahkan melihat bahwa investasi bagi usaha konservasi di Indonesia harus pertama dilakukan agar species sulawesi terselamatkan dulu baru investasi tersebut dialokasikan ke Borneo, Sumatera, Jawa dan Malaysia.</p>
<p>Dr. Johny Tasirin<br />
Sulawesi Program Manager<br />
WCS Indonesia Program</p>
<p>dipublikasikan juga di  sulutlink.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wcsip.org/konservasi-keanekaan-hayati-sulawesi-dalam-konteks-sulawesi-utara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepupunya ditemukan di India, Yaki Sulawesi hampir punah.</title>
		<link>http://www.wcsip.org/sepupunya-ditemukan-di-india-yaki-sulawesi-hampir-punah/</link>
		<comments>http://www.wcsip.org/sepupunya-ditemukan-di-india-yaki-sulawesi-hampir-punah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 04:32:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wpnuwcsip/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Sepupu monyet Sulawesi baru saja ditemukan di India. Penemuan ini memecahkan 100 tahun kesunyian tanpa penemuan primata baru di dunia ini. Berita ini dimuat secara&#160;&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepupu monyet Sulawesi baru saja ditemukan di India. Penemuan ini memecahkan 100 tahun kesunyian tanpa penemuan primata baru di dunia ini. Berita ini dimuat secara on-line di The New York Times, December 16, 2004 dan akan segera muncul dalam The International Journal of Primatology. Primata yang terakhir ditemukan sebelumnya adalah makaka dari Kepulauan Mentawai pada tahun 1903 oleh tim Wildlife Conservation Society (WCS) yang adalah organisasi induk Bronx Zoo, New York.<span id="more-232"></span>Jenis makaka (macaque) baru ini disebut makaka Arunchal (dengan nama ilmiah Macaca munzala) sedangkan sepupunya monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) oleh penduduk lokal dipanggil wolai (yaki). Keduanya memiliki rambut jabrik di bagian kepala. Hanya saja, rambut kepala (dan juga bulu tubuh) makaka Arunchal berwarna pirang sedangkan wolai berwarna hitam legam dan lebih jabrik. Ekor wolai hampir tidak kelihatan sedangkan saudara tuanya di India itu masih ada ekor gemuk walau tidak sepanjang sepupu mereka lainnya di Sangeh Bali misalnya. Wolai betina tidak bisa menyembunyikan hasrat seksualnya karena pada saat birahi, kulit pantatnya menjadi merah dan membengkak sedangkan sepupunya yang di India tidak seekstrim itu.</p>
<p>Wolai lahir di Sulawesi ribuan tahun yang lalu. Habitat aslinya ada di semenanjung utara Sulawesi (Minahasa, Bolmong dan Bone-Bolango). Monyet yang dominan di Kabupaten Gorontalo adalah jenis lain lagi yang disebut Macaca nigrescens. Selepas Gorontalo sampai Makasar masih ada beberapa jenis makaka lainnya.</p>
<p>Harapan hidup makaka dari utara ini semakin meredup. Mereka banyak dibantai untuk di konsumsi. Mereka merana diikat menjadi peliharaan dan hiasan rumah. Hutan yang menjadi rumah dan ladang pencahariannya semakin menciut. Kualitas habitatnya semakin suram. Seolah mereka menjerit: “Ado kasiang! Rumah ngoni so se ta fiaro, tong pe badang le ngoni ciraro”. Jika kesadaran masyarakat pemburu dan pemakan tidak berubah, maka dalam waktu yang tidak begitu lama lagi wolai akan tinggal sejarah.</p>
<p>Menghentikan konsumsi daging yaki akan secara nyata membantu usaha konservasi yaki di alam.</p>
<p>Ikuti juga berita di BBC tentang makaka Arunchal: http://news.bbc.co.uk/1/hi/sci/tech/4101001.stm</p>
<p>John Tasirin<br />
WCS IP Sulawesi</p>
<p>dipublikasikan juga di sulutlink.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wcsip.org/sepupunya-ditemukan-di-india-yaki-sulawesi-hampir-punah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prioritas Pengelolaan Sumber Daya Hutan dan Pertimbangan</title>
		<link>http://www.wcsip.org/prioritas-pengelolaan-sumber-daya-hutan-dan-pertimbangan/</link>
		<comments>http://www.wcsip.org/prioritas-pengelolaan-sumber-daya-hutan-dan-pertimbangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 04:31:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wpnuwcsip/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Hutan memiliki fungsi penyangga kehidupan yang tidak tergantikan. Arti kehidupan bagi manusia di masa lampau terbatas pada ketersediaan pangan yang diperoleh lewat perburuan. Hutan adalah&#160;&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hutan memiliki fungsi penyangga kehidupan yang tidak tergantikan. Arti kehidupan bagi manusia di masa lampau terbatas pada ketersediaan pangan yang diperoleh lewat perburuan. Hutan adalah rumah manusia. Hutan adalah habitatnya. Dalam kesederhanaan kehidupan di masa itu, fungsi intrinsik lainnya dari hutan berupa pengatur tata air dan iklim, pencegah bencana, dan pemberi kayu tidak perlu didefinisikan. Kondisi iklim ekstrim yang berujung bencana banjir dan kekeringan merupakan bagian dari pembentukan bentangan dan diterima sebagai kepatutan yang hakiki. Tanpa simposia hutan diberi atribut sebagai tempat hidup, penyedia kehidupan, dan sekaligus penyangga kehidupan.<br />
<span id="more-230"></span>Di masa sekarang ini, hutan dipilah‐pilah untuk melayani kebutuhan manusia dan untuk memudahkan manusia mengelola sumber daya yang ada di dalamnya. Kawasan yang memiliki kondisi bentangan yang memadai untuk menghasilkan kayu dialokasikan menjadi hutan produksi. Hutan yang memiliki perwakilan keunikan suatu ekosistem dilindungi sebagai kawasan konservasi, sedangkan hutan yang memiliki karakteristik sebagai pengatur tata air ditetapkan sebagai hutan lindung. Fungsi intrinsik sebagai sumber pangan sudah semakin ditinggalkan dengan berkembangnya pertanian di lahan permanen. Pangan tidak lagi bersumber dari perburuan di hutan tapi disediakan oleh usaha pertanian.<br />
Pemilahan kawasan hutan ini sekaligus dimaksudkan untuk menjaga agar fungsi intrinsik dari hutan tetap terpelihara. Dari sudut pandang pengelolaan hutan, kawasan hutan yang paling sengsara adalah hutan produksi. Pengelola hutan produksi dituntut untuk melayani fungsi lindung di sebagian kawasan pengelolaannya. Produksi kayu harus diimbangi dengan usaha konservasi yang pendekatan pengelolaannya berada pada dua kutub yang berseberangan. Untuk memenuhi tuntutan produksi, pengelola akan merusak bentangan, sedangkan untuk mencapai target konservasi pengelola harus tidak mengganggu bentangan termasuk sistem alami yang berproses di dalamnya.<br />
Sulawesi merupakan pulau dengan kandungan ekosistem alami yang unik dan tidak tergantikan. Hasil dorongan geologi dan dinamika samudera yang aktif telah membentuk pulau yang berkelok‐kelok dengan semenanjung yang sempit dan bergunung‐gunung. Kesuburan tanah vulkanik dan iklim tropik yang nyaman telah menciptakan ekosistem Sulawesi yang kaya dan khas. Biogeografi Afrika‐Oriental dan Australasia berpadu dalam satu bentangan dan melahirkan kombinasi keanekaan hayati yang indeks endemisitas gabungan terestrial dan bahari adalah tertinggi di Dunia.<br />
Selama berabad‐abad hutan alam di Indonesia termasuk di Sulawesi telah menjadi sumber kayu untuk bangunan dan kertas. Pemanenan kayu yang intensif telah meninggalkan ekosistem hutan yang sangat terdegradasi dengan potensi kayu yang tidak begitu menguntungkan lagi untuk operasi hutan komersil. Kawasan yang semula<br />
Version 1.2.<br />
John Tasirin 7/28/2008<br />
direncanakan untuk menopang kebutuhan kayu nasional tidak lagi bisa melayani fungsi tersebut. Pemilahan fungsi dan alokasi lahan hutan. yang semula dianggap bijak, saat ini menjadi limbung. Kawasan produksi tidak produktif tapi disampingnya terdapat hutan, yang katanya “dilindungi”, memiliki kayu.<br />
Dalam pandangan umum, tidak ada perbedaan yang berarti antara hutan produksi atau hutan lindung dibanding dengan perkebunan kelapa atau cengkeh. Semuanya adalah ladang untuk mencari nafkah. Fungsi penyanggaan Pandangan ini menjadi arus kuat dan memiliki penganut yang semakin banyak baik itu di kalangan birokrasi, legislatif dan rakyat kecil. Semua “mencari aman” dan membangun kenyaman sendiri. Mungkin juga karena perubahan bentangan yang ekstrim belum pernah membawa kerugian atau bencana pada masa hidup generasi pelaku perusakan yang hanya mengisi rentang waktu 20‐25 tahun. Pandangan ini menjadi kebenaran sepanjang masa dalam skala satu generasi umur manusia. Pada hakekatnya, para penganut pandangan ini sedang berpidato bahwa “penetapan hutan lindung adalah kebodohan atau lelucon yang tak lucu.” Orang‐orang yang tidak peduli, tidak mau mengikat diri pada komitmen jangka panjang karena prioritas yang keliru. Arti hakiki dari pandangan seperti ini adalah “uang hari ini diperas dari korban bencana di masa depan”.<br />
Dari sudut pandangan kebijakan negara, hutan lindung adalah hutan yang ditetapkan untuk melayani fungsi lindung. Tidak ada tujuan produksi kayu di dalamnya. Untuk alasan pendapatan daerah dan kemiskinan, dengan sengaja, sementara masyarakat telah mengabaikan kawasan hutan lindung sebagai situs terakhir fungsi lindung yang ditawarkan alam kepada manusia. Juga sering terlupakan bahwa peraturan perundangan dibuat untuk menyediakan jaminan agar fungsi lindung tersebut tidak diinterupsi oleh kegiatan lain seperti pertambangan atau penebangan. Merusak kawasan lindung untuk tujuan pengentasan kemiskinan, baik secara perorangan maupun badan usaha, seolah telah menjadi suatu kebenaran. Kebenaran semu ini harus ditunggangbalikkan.<br />
Luas hutan lindung di Sulawesi Utara terlalu kecil untuk secara berkelanjutan mampu menopang fungsi lindung yang efektif. Oleh karena itu, fungsi lindung harus menjadi dasar kebijakan pengelolaan lahan hutan dan bahkan di kawasan produksi di sekitar hutan. Perluasan implementasi fungsi lindung di kawasan tetangga ini justru akan lebih menjamin bahwa alam akan memberikan pelayanan “perlindungan” yang lebih baik.<br />
Tidak bisa disangkal bahwa fungsi lindung bisa disediakan tidak hanya oleh hutan lindung. Kawasan hutan produksi dan kawasan budidaya lainnya bisa dikelola untuk tujuan produksi tapi sekaligus melayani fungsi lindung. Fungsi lindung di kawasan budidaya mungkin tidak akan seefektif dibandingkan dengan kawasan lindung tapi bisa dioptimasi lewat teknologi terkini dalam bidang konservasi tanah dan air. Hal ini tidak harus diartikan bahwa kawasan hutan lindung lalu tidak memiliki arti lagi, apalagi di semananjung utara Sulawesi yang sarat patahan geologi dengan penampang<br />
topografi yang bergerigi dan lebar yang sempit. Oleh karena itu, perencanaan wilayah yang terbaik di Sulawesi Utara adalah perencanaan yang secara berarti mempertimbangkan kawasan lindung sebagai penyangga pembangunan dan kehidupan.<br />
Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dimanapun di Sulawesi akan terganggu dan tidak berkelanjutan jika hutan lindung dan kawasan lain yang memiliki fungsi lindung tidak terpelihara. Agar fungsi lindung terpelihara, pengawasan dan pengendalian yang ketat harus diberlakukan bagi penebangan pohon dan konversi lahan. Tidak perlu menunggu munculnya gangguan atau bencana. Ketika penanganan dilaksanakan setelah adanya gangguan serius maka biaya pembangunan akan digerogoti secara serius juga oleh pembiayaan bencana alam yang diinduksi oleh pengelolaan lahan yang keliru.<br />
Mengganggu kawasan hutan lindung dan kawasan lainnya yang memiliki fungsi lindung di Pulau Sulawesi dan terutama di Sulawesi Utara akan menggerogoti dan melenyapkan pelayanan jasa alam untuk menyangga kehidupan rakyat dan pembangunan ekonomi. Dalam kerangka pemikiran seperti ini, adalah tidak logis untuk menggunakan kawasan yang memiliki fungsi lindung (berbentuk hutan atau usahatani berkelanjutan) untuk usaha pertambangan.<br />
Dr. Johny S. Tasirin<br />
Sulawesi Program Coordinator, WCS – Indonesia Program<br />
Ahli Ekologi Konservasi, Program Studi Kehutanan UNSRAT</p>
<p>dipublikasikan juga di : Kolom Lestari &#8211; Manado Post : Rabu, 30 Juli 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wcsip.org/prioritas-pengelolaan-sumber-daya-hutan-dan-pertimbangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Press Release: Lansekap Tangkoko-Duasudara</title>
		<link>http://www.wcsip.org/press-release-lansekap-tangkoko-duasudara/</link>
		<comments>http://www.wcsip.org/press-release-lansekap-tangkoko-duasudara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 04:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wpnuwcsip/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Sulawesi adalah pulau yang sangat berharga bagi konservasi biologi karena memiliki proporsi jenis satwa endemik yang tertinggi di Indonesia. Yang dimaksud dengan jenis endemik adalah&#160;&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sulawesi adalah pulau yang sangat berharga bagi konservasi biologi karena memiliki proporsi jenis satwa endemik yang tertinggi di Indonesia. Yang dimaksud dengan jenis endemik adalah jenis yang secara alami tidak ditemukan di tempat lain di dunia ini. Dari 127 jenis mamalia yang ditemukan di Sulawesi, 79 (62%) endemik. 46% dari 165 mamalia endemik Indonesia. Dari 233 jenis burung yang ditemukan di Sulawesi, 103 (44%) endemik. 40% dari 256 burung endemik Indonesia. Dari 104 jenis reptilia yang ditemukan di Sulawesi, 29 (28%) endemic itu berarti sekitar 20% dari 150 reptilia yang tercatat endemik Indonesia.<span id="more-228"></span>Primata Sulawesi juga menakjubkan. Dari 11 jenis monyet Macaca yang ada di dunia, 7 jenis ada dan hanya ada di Sulawesi. Monyet di Sangeh, Bali adalah salah satu dari jenis monyet dari genera Macaca. Dari 9 jenis Tarsius yang telah bernama di dunia, 6 jenis endemik di Sulawesi. Macaca nigra (crested black macaque) yang hanya ditemukan di Bolaang dan Minahasa adalah monyet yang paling banyak menghabiskan waktu di tanah dibandingkan monyet manapun di dunia.<br />
Semenanjung utara Sulawesi (tanah Minahasa, Totabuan dan Gorontalo) merupakan kawasan penting untuk konservasi keanekaragaman hayati. Ada 89 (86%) dari 103 jenis burung endemik di Sulawesi. Ada 17 (45%) jenis tikus dari 38 jenis endemik Sulawesi. Ada 20 (83%) jenis kelelawar buah dari 24 jenis endemik Sulawesi.<br />
Beberapa jenis satwa endemik Sulawesi yang menakjubkan. Maleo (Macrocephalon maleo) menimbun telurnya di dalam tanah dan dierami oleh panas bumi atau matahari. Babirusa (Babyrousa babyrussa) memiliki dua pasang cula yang keduanya adalah adalah taring. Satu pasang taring adalah bagian dari geligi atas yang membengkok, kemudian bertumbuh dan menembus moncong atas lalu melengkung ke arah mata. Yaki, the crested black macaques, (Macaca nigra) adalah terbesar di antara jenis Macaca di dunia. Yaki betina tidak dapat menyembunyikan hasrat seksualnya karena tampak pada pantatnya yang membengkak berwarna merah. Anoa (Bubalus spp.) adalah kerbau katai yang pada saat berdiri hanya mencapai tinggi satu meter dari tanah ke punggung. Kuskus (Ailurops ursinus dan Stigocuscus celebensis) adalah jenis marsupial (hewan berkantong) yang berkerabat dengan kangguru di Australia. Tidak ada marsupial yang ditemukan di seberang pantai barat Sulawesi. Sebaran marsupial berhenti sampai di Sulawesi. Musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroeckii) adalah hewan karnifora (pemakan daging) berukuran besar yang paling misterius di dunia.<br />
Kelestarian dari semua keindahan dan kekayaan alam ini sedang terancam menuju ke kepunahan. Populasi satwa-satwa asli Sulawesi sedang menuju ke kepunahan karena berbagai ancaman. Ada 81 jenis burung, mamalia, reptilia dan ampibi Sulawesi terdaftar dalam Red List of Threatened Animals yang diterbitkan oleh World Conservation Union (IUCN, www.iucn.org).  Salah satu akar penyebab mencuatnya ancaman kepunahan ini adalah rendahnya apresiasi masyarakat terhadap kekayaan alam ini. Perburuan dan perusakan habitat merupakan bentuk ancaman serius bagi satwa-satwa asli Sulawesi ini. Semua satwa ini bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional di Minahasa, Bolmong dan Gorontalo.<br />
Artikel Wilson dkk di jurnal Nature volume 440 tanggal 16 Maret 2006 dengan tegas menguraikan bahwa investasi bagi usaha konservasi di daerah Indo-Melayu harus pertama dilakukan di Sulawesi sampai semua species terselamatkan baru investasi tersebut dialokasikan ke Kalimantan, Sumatera, Jawa dan terakhir Malaysia. Usaha konservasi sekarang ini telah menjadi tuntutan krusial agar keanekaragaman hayati Sulawesi ini sebagai aset bagi pariwisata dan pendidikan bisa menguntungkan bagi kesejahteraan semua orang dan lestari. Beberapa usaha penyelamatan adalah sebagai berikut:<br />
-    menegaskan penegakan hukum,<br />
-    menghentikan penebangan liar di hutan-hutan yang menjadi habitat satwa langka,<br />
-    menghentikan perburuan,<br />
-    menghentikan kebiasaan memakan satwa liar, dan<br />
-    restorasi habitat dan pembiakan satwa secara alami.<br />
Lansekap Tangkoko Duasudara (LTD) merupakan salah satu kawasan alam terakhir yang menawarkan suaka bagi penyusun alam hayati Sulawesi. LTD memiliki nilai sejarah alam yang penting. Di LTD terdapat 26 jenis mamalia (10 jenis endemik Sulawesi), 180 jenis burung (59 diantaranya endemik Sulawesi dan 5 endemik Sulut), dan 15 jenis reptil dan ampibi. Manguni simbol Minahasa (Otus manadensis), ditemukan di LTD bersama 7 jenis manguni lainnya. Burung malam ini harus sharing habitat dengan belasan perambah malam lainnya termasuk tarsius, 7 jenis paniki, dan Sulawesi Palm Civet. Sulawesi Palm Civet (Macrogalidia musschenbroeki), oleh IUCN disebut sebagai karnifora besar yang paling misterius di dunia. Di LTD hutan tropis membentang dari tipe hutan pantai sampai hutan pegunungan dengan variasi jenis tumbuhan yang cukup kompleks. LTD adalah rumah dari monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) dan tangkasi (Tarsius spectrum) yang adalah dua jenis primata asli Sulawesi Utara dengan nilai evolusi yang tinggi. LTD memiliki kuskus beruang dan maleo yang berkerabat dengan satwa di Australia. LTD adalah tujuan wisata burung yang sangat diminati.<br />
Ada empat kawasan konservasi di LTD yakni Cagar Alam Tangkoko, Cagar Alam Duasudara, Taman Wisata Alam Batu Putih, dan Taman Wisata Alam Batu Angus yang semuanya dikelola oleh Departemen Kehutanan dan semuanya terletak di wilayah administrasi Kota Bitung. Cagar Alam (CA) adalah bentuk pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia dengan nilai konservasi tertinggi. Taman Wisata Alam (TWA) adalah bentuk pengelolaan kawasan konservasi dengan zonasi yang memungkinkan pemanfaatan kawasan untuk tujuan terbatas termasuk pariwisata.<br />
Cagar Alam Tangkoko ditetapkan berdasarkan GB. NO. 6 Stbl 1919, tanggal 12 Februari 1919 dengan luas 3.196 ha yang mencakup kawasan Gunung Tangkoko-Batu Angus dan sekitarnya. Cagar Alam Duasudara ditetapkan berdasarkan SK. Mentan No 700/Kpts/ Um/7/78 Tanggal 13 November 1978 dengan luas 4.299 ha mencakup Gunung Duasudara dan sekitarnya. Taman Wisata Alam Batuputih ditetapkan berdasarkan SK. Mentan No. 1049 /Kpts/Um/12/18 tgl 24 Desember 1981 dengan luas 615 ha terletak diantara Cagar Alam Tangkoko dan Kelurahan Batuputih. Taman Wisata Alam Batuangus ditetapkan berdasarkan SK. Mentan No.1049/Kpts/Um/12/18 tgl 24 Desember 1981 dengan luas 635 ha terletak diantara Cagar Alam Tangkoko dan Desa Pinangunian.<br />
Atraksi alam yang ditawarkan LTD mencakup antara lain Deep Sea Fishing, Traditional Fishing, Coral Reef, Wildlife Trakking, Mountain Climbing, Night Trakking, Bird Watching, Hot Water Sea Swimming, dan Wildlife Adventure.<br />
Johny Tasirin &lt;jtasirin@wcs.org&gt;<br />
Sulawesi Program Coordinator<br />
Wildlife Conservation Society – Indonesia Program<br />
Jl Sam Ratulangi 41, Manado 95114<br />
Ph. &amp; Fax.: +62 431 8880441</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wcsip.org/press-release-lansekap-tangkoko-duasudara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Climate change policy footprint amid threat of global warming</title>
		<link>http://www.wcsip.org/climate-change-policy-footprint-amid-threat-of-global-warming-2/</link>
		<comments>http://www.wcsip.org/climate-change-policy-footprint-amid-threat-of-global-warming-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 04:24:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wpnuwcsip/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[<div id="info">Global warming has arrived, in more ways than one. There is now scientific consensus that global warming is taking place and that the burning of&#160;&#8230;</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="info">Global warming has arrived, in more ways than one. There is now scientific consensus that global warming is taking place and that the burning of fossil fuels has contributed to it. The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) makes two things clear: first, global warming is a fact. And second, a delay in reducing greenhouse gas emissions will increase the risk of global disasters &#8212; from droughts, floods and storms, to declines in agricultural productivity and food security as well as rising sea levels.<span id="more-226"></span></div>
<p>Indonesia ratified the convention on the World Meteorological Organization (WMO) in November 1950, and has been actively involved in the organization. In 1988, the WMO and the United Nations Environment Program established the IPCC. Indonesia has also committed itself to participating in all UN General Assembly meetings, in particular the UN Conference on Environment and Development in Rio de Janeiro, Brazil. This article will examine the Indonesian government&#8217;s efforts to regulate greenhouse gas (GHG) emissions.</p>
<p>The first IPCC report was published in 1990. The key findings were as follows: &#8220;Emissions resulting from human activities are substantially increasing the atmospheric concentration of the greenhouse gases: carbon dioxide, methane, chlorofluorocarbons (CFCs) and nitrous oxide. These increases will enhance the greenhouse effect, resulting on average in an additional warming of the Earth&#8217;s surface.&#8221;</p>
<p>Despite this report, the Indonesian government&#8217;s response in addressing the problem has been lackadaisical. In 1990, a conservation law was passed. Unfortunately, it was enacted not as a legal basis for climate change policies, but merely to respond to Article 12 of Law No. 4/1982 on the environment. The 1993 People&#8217;s Consultative Assembly (MPR) decree on state policy guidelines (GBHN) is also similarly oblivious to the IPCC&#8217;s recommendations.</p>
<p>Likewise, when the government ratified the UN Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) in 1994, it failed to implement regulations that would reduce GHG emissions.</p>
<p>In 1995, the IPCC released a second report, reaffirming &#8220;the balance of evidence suggests a discernible human influence on global climate change&#8221;. This report served as the basis for negotiations in the Kyoto Protocol.</p>
<p>The protocol has been adopted by most governments around the world, and 1996 was a pivotal year for environmental and natural resource laws and policies in Indonesia: an environmental law and a marine law were enacted that year.</p>
<p>But even as these laws were passed, the government failed to recognize climate change as a key environmental problem. As the world&#8217;s longest and largest archipelagic state, Indonesia is at high risk from the adverse effects of climate change, including rising sea levels in low coastal areas, which pose immense threats to the country&#8217;s marine ecosystems, biodiversity and fishing industry.</p>
<p>And to make matters worse, a government regulation on forestry was passed in 1999, which, given its centralistic and exploitative character, will significantly aid in devastating the country&#8217;s forests &#8212; forests that can offset the effects of climate change by acting as a massive carbon sink.</p>
<p>However, there has been some progress. In the same year, conservation efforts were boosted by the passing of four regulations, which became the legal basis for environmental conservation and pollution control. They enabled government agencies to allocate existing national parks as carbon sinks.</p>
<p>The IPCC&#8217;s third report, issued in 2001, states, &#8220;There is new and stronger evidence that most of the warming observed over the last 50 years is attributable to human activities&#8221;.</p>
<p>The report also highlighted the major role of fossil fuels in contributing to GHGs. Indonesian forest fires, which release billions of tons of GHGs, are also a significant contributor to global warming. In 2001, former president Abdurrahman Wahid signed into law a regulation on forest fire prevention. Unfortunately, this law lacks any authority, and is brazenly flouted at every opportunity.</p>
<p>In 2007, the IPCC published its fourth report, saying, &#8220;There is a greater than 90 percent certainty that human activities, led by burning fossil fuel, account for most of the global warming in the previous 50 years. Most of the observed increase in the globally averaged temperature since the mid-20th century is very likely due to the observed increase in anthropogenic greenhouse gas concentration&#8221;.</p>
<p>The UNFCCC conference was held in Bali that same year. Realizing the importance of this conference, the Yudhoyono administration actively campaigned against global warming during 2007. They explored the challenges of mitigating and adapting to climate change, particularly through the Reducing Emission from Deforestation and Degradation in Developing Countries (REDD) project. The Ministry of Forestry, in cooperation with the Indonesian Forest Climate Alliance (IFCA), even launched a REDD pilot project.</p>
<p>Recent studies in national climate change policy and environmental policy generally demonstrate the government&#8217;s failure to address global warming. The government should continue developing the aims, incentives, strategic policies and measures to track progress of GHG reduction.</p>
<p>An effective policy response to climate change must combine mitigation &#8212; actions to reduce greenhouse gas emissions &#8212; and adaptation &#8212; actions to manage the impacts of climate change. The adaptation planning and policies must also recognize the link between the environment, the economy and society, and must integrate, accommodate and reconcile social, economic and environmental priorities. Effective adaptation will involve incorporating climate concerns into a broad range of planning and development activities across multiple sectors and institutions.</p>
<p>Indonesia must also take into account the impact of climate change on national development. Economic development goals and climate change policy goals must not be seen as opposite ends of a spectrum. They must be seen as paths toward the same goal. Economic development is necessary to alleviate poverty, improve access to energy, increase economic growth and aid our adaptation efforts.</p>
<p>Finally, the government has to integrate climate change policy into development plans for inclusive and sustainable development. In this context, we need to rethink spending money on subsidizing fossil fuels, a practice that may be inconsistent with GHG reductions.</p>
<p><em>The writer is a policy director at the Wildlife Conservation Society. He can be reached at </em><a title="Linkification: mailto:h.alexander@wcsip.org" href="mailto:h.alexander@wcsip.org">h.alexander@wcsip.org</a></p>
<p><a href="http://www.thejakartapost.com/headlines.asp" target="_blank">Display the original site</a></p>
<div id="info">Date : 		  17/06/2008<br />
Source : 		The Jakarta Post<br />
Author : 		Harry Alexander, Jakarta</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wcsip.org/climate-change-policy-footprint-amid-threat-of-global-warming-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
