Press Release: Lansekap Tangkoko-Duasudara

Sulawesi adalah pulau yang sangat berharga bagi konservasi biologi karena memiliki proporsi jenis satwa endemik yang tertinggi di Indonesia. Yang dimaksud dengan jenis endemik adalah jenis yang secara alami tidak ditemukan di tempat lain di dunia ini. Dari 127 jenis mamalia yang ditemukan di Sulawesi, 79 (62%) endemik. 46% dari 165 mamalia endemik Indonesia. Dari 233 jenis burung yang ditemukan di Sulawesi, 103 (44%) endemik. 40% dari 256 burung endemik Indonesia. Dari 104 jenis reptilia yang ditemukan di Sulawesi, 29 (28%) endemic itu berarti sekitar 20% dari 150 reptilia yang tercatat endemik Indonesia.Primata Sulawesi juga menakjubkan. Dari 11 jenis monyet Macaca yang ada di dunia, 7 jenis ada dan hanya ada di Sulawesi. Monyet di Sangeh, Bali adalah salah satu dari jenis monyet dari genera Macaca. Dari 9 jenis Tarsius yang telah bernama di dunia, 6 jenis endemik di Sulawesi. Macaca nigra (crested black macaque) yang hanya ditemukan di Bolaang dan Minahasa adalah monyet yang paling banyak menghabiskan waktu di tanah dibandingkan monyet manapun di dunia.
Semenanjung utara Sulawesi (tanah Minahasa, Totabuan dan Gorontalo) merupakan kawasan penting untuk konservasi keanekaragaman hayati. Ada 89 (86%) dari 103 jenis burung endemik di Sulawesi. Ada 17 (45%) jenis tikus dari 38 jenis endemik Sulawesi. Ada 20 (83%) jenis kelelawar buah dari 24 jenis endemik Sulawesi.
Beberapa jenis satwa endemik Sulawesi yang menakjubkan. Maleo (Macrocephalon maleo) menimbun telurnya di dalam tanah dan dierami oleh panas bumi atau matahari. Babirusa (Babyrousa babyrussa) memiliki dua pasang cula yang keduanya adalah adalah taring. Satu pasang taring adalah bagian dari geligi atas yang membengkok, kemudian bertumbuh dan menembus moncong atas lalu melengkung ke arah mata. Yaki, the crested black macaques, (Macaca nigra) adalah terbesar di antara jenis Macaca di dunia. Yaki betina tidak dapat menyembunyikan hasrat seksualnya karena tampak pada pantatnya yang membengkak berwarna merah. Anoa (Bubalus spp.) adalah kerbau katai yang pada saat berdiri hanya mencapai tinggi satu meter dari tanah ke punggung. Kuskus (Ailurops ursinus dan Stigocuscus celebensis) adalah jenis marsupial (hewan berkantong) yang berkerabat dengan kangguru di Australia. Tidak ada marsupial yang ditemukan di seberang pantai barat Sulawesi. Sebaran marsupial berhenti sampai di Sulawesi. Musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroeckii) adalah hewan karnifora (pemakan daging) berukuran besar yang paling misterius di dunia.
Kelestarian dari semua keindahan dan kekayaan alam ini sedang terancam menuju ke kepunahan. Populasi satwa-satwa asli Sulawesi sedang menuju ke kepunahan karena berbagai ancaman. Ada 81 jenis burung, mamalia, reptilia dan ampibi Sulawesi terdaftar dalam Red List of Threatened Animals yang diterbitkan oleh World Conservation Union (IUCN, www.iucn.org).  Salah satu akar penyebab mencuatnya ancaman kepunahan ini adalah rendahnya apresiasi masyarakat terhadap kekayaan alam ini. Perburuan dan perusakan habitat merupakan bentuk ancaman serius bagi satwa-satwa asli Sulawesi ini. Semua satwa ini bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional di Minahasa, Bolmong dan Gorontalo.
Artikel Wilson dkk di jurnal Nature volume 440 tanggal 16 Maret 2006 dengan tegas menguraikan bahwa investasi bagi usaha konservasi di daerah Indo-Melayu harus pertama dilakukan di Sulawesi sampai semua species terselamatkan baru investasi tersebut dialokasikan ke Kalimantan, Sumatera, Jawa dan terakhir Malaysia. Usaha konservasi sekarang ini telah menjadi tuntutan krusial agar keanekaragaman hayati Sulawesi ini sebagai aset bagi pariwisata dan pendidikan bisa menguntungkan bagi kesejahteraan semua orang dan lestari. Beberapa usaha penyelamatan adalah sebagai berikut:
-    menegaskan penegakan hukum,
-    menghentikan penebangan liar di hutan-hutan yang menjadi habitat satwa langka,
-    menghentikan perburuan,
-    menghentikan kebiasaan memakan satwa liar, dan
-    restorasi habitat dan pembiakan satwa secara alami.
Lansekap Tangkoko Duasudara (LTD) merupakan salah satu kawasan alam terakhir yang menawarkan suaka bagi penyusun alam hayati Sulawesi. LTD memiliki nilai sejarah alam yang penting. Di LTD terdapat 26 jenis mamalia (10 jenis endemik Sulawesi), 180 jenis burung (59 diantaranya endemik Sulawesi dan 5 endemik Sulut), dan 15 jenis reptil dan ampibi. Manguni simbol Minahasa (Otus manadensis), ditemukan di LTD bersama 7 jenis manguni lainnya. Burung malam ini harus sharing habitat dengan belasan perambah malam lainnya termasuk tarsius, 7 jenis paniki, dan Sulawesi Palm Civet. Sulawesi Palm Civet (Macrogalidia musschenbroeki), oleh IUCN disebut sebagai karnifora besar yang paling misterius di dunia. Di LTD hutan tropis membentang dari tipe hutan pantai sampai hutan pegunungan dengan variasi jenis tumbuhan yang cukup kompleks. LTD adalah rumah dari monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) dan tangkasi (Tarsius spectrum) yang adalah dua jenis primata asli Sulawesi Utara dengan nilai evolusi yang tinggi. LTD memiliki kuskus beruang dan maleo yang berkerabat dengan satwa di Australia. LTD adalah tujuan wisata burung yang sangat diminati.
Ada empat kawasan konservasi di LTD yakni Cagar Alam Tangkoko, Cagar Alam Duasudara, Taman Wisata Alam Batu Putih, dan Taman Wisata Alam Batu Angus yang semuanya dikelola oleh Departemen Kehutanan dan semuanya terletak di wilayah administrasi Kota Bitung. Cagar Alam (CA) adalah bentuk pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia dengan nilai konservasi tertinggi. Taman Wisata Alam (TWA) adalah bentuk pengelolaan kawasan konservasi dengan zonasi yang memungkinkan pemanfaatan kawasan untuk tujuan terbatas termasuk pariwisata.
Cagar Alam Tangkoko ditetapkan berdasarkan GB. NO. 6 Stbl 1919, tanggal 12 Februari 1919 dengan luas 3.196 ha yang mencakup kawasan Gunung Tangkoko-Batu Angus dan sekitarnya. Cagar Alam Duasudara ditetapkan berdasarkan SK. Mentan No 700/Kpts/ Um/7/78 Tanggal 13 November 1978 dengan luas 4.299 ha mencakup Gunung Duasudara dan sekitarnya. Taman Wisata Alam Batuputih ditetapkan berdasarkan SK. Mentan No. 1049 /Kpts/Um/12/18 tgl 24 Desember 1981 dengan luas 615 ha terletak diantara Cagar Alam Tangkoko dan Kelurahan Batuputih. Taman Wisata Alam Batuangus ditetapkan berdasarkan SK. Mentan No.1049/Kpts/Um/12/18 tgl 24 Desember 1981 dengan luas 635 ha terletak diantara Cagar Alam Tangkoko dan Desa Pinangunian.
Atraksi alam yang ditawarkan LTD mencakup antara lain Deep Sea Fishing, Traditional Fishing, Coral Reef, Wildlife Trakking, Mountain Climbing, Night Trakking, Bird Watching, Hot Water Sea Swimming, dan Wildlife Adventure.
Johny Tasirin <jtasirin@wcs.org>
Sulawesi Program Coordinator
Wildlife Conservation Society – Indonesia Program
Jl Sam Ratulangi 41, Manado 95114
Ph. & Fax.: +62 431 8880441

home mail this post print this post share this post back