Sepupu monyet Sulawesi baru saja ditemukan di India. Penemuan ini memecahkan 100 tahun kesunyian tanpa penemuan primata baru di dunia ini. Berita ini dimuat secara on-line di The New York Times, December 16, 2004 dan akan segera muncul dalam The International Journal of Primatology. Primata yang terakhir ditemukan sebelumnya adalah makaka dari Kepulauan Mentawai pada tahun 1903 oleh tim Wildlife Conservation Society (WCS) yang adalah organisasi induk Bronx Zoo, New York.Jenis makaka (macaque) baru ini disebut makaka Arunchal (dengan nama ilmiah Macaca munzala) sedangkan sepupunya monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) oleh penduduk lokal dipanggil wolai (yaki). Keduanya memiliki rambut jabrik di bagian kepala. Hanya saja, rambut kepala (dan juga bulu tubuh) makaka Arunchal berwarna pirang sedangkan wolai berwarna hitam legam dan lebih jabrik. Ekor wolai hampir tidak kelihatan sedangkan saudara tuanya di India itu masih ada ekor gemuk walau tidak sepanjang sepupu mereka lainnya di Sangeh Bali misalnya. Wolai betina tidak bisa menyembunyikan hasrat seksualnya karena pada saat birahi, kulit pantatnya menjadi merah dan membengkak sedangkan sepupunya yang di India tidak seekstrim itu.
Wolai lahir di Sulawesi ribuan tahun yang lalu. Habitat aslinya ada di semenanjung utara Sulawesi (Minahasa, Bolmong dan Bone-Bolango). Monyet yang dominan di Kabupaten Gorontalo adalah jenis lain lagi yang disebut Macaca nigrescens. Selepas Gorontalo sampai Makasar masih ada beberapa jenis makaka lainnya.
Harapan hidup makaka dari utara ini semakin meredup. Mereka banyak dibantai untuk di konsumsi. Mereka merana diikat menjadi peliharaan dan hiasan rumah. Hutan yang menjadi rumah dan ladang pencahariannya semakin menciut. Kualitas habitatnya semakin suram. Seolah mereka menjerit: “Ado kasiang! Rumah ngoni so se ta fiaro, tong pe badang le ngoni ciraro”. Jika kesadaran masyarakat pemburu dan pemakan tidak berubah, maka dalam waktu yang tidak begitu lama lagi wolai akan tinggal sejarah.
Menghentikan konsumsi daging yaki akan secara nyata membantu usaha konservasi yaki di alam.
Ikuti juga berita di BBC tentang makaka Arunchal: http://news.bbc.co.uk/1/hi/sci/tech/4101001.stm
John Tasirin
WCS IP Sulawesi
dipublikasikan juga di sulutlink.com
