WCU Membentuk Jaringan Monitoring Pasar Burung (Mars-Net) Di Indonesia

WCU Establish Markets Survey Networking (Mars-Net) In Indonesia

landak WCU Membentuk Jaringan Monitoring Pasar Burung (Mars Net) Di IndonesiaWCU di pertengahan tahun 2007 meluncurkan program Jaringan Monitoring Pasar Burung Indonesia yang atau MARS-NET (Markets Survey Networking). Program ini merupakan kolaborasi antara WCU dengan para volunteer yang tersebar di kota-kota besar Indonesia untuk memantau perdagangan satwa di pasar-pasar burung utama. Setiap bulan para volunteer akan mengumpulkan data-data tentang jumlah, jenis, harga, dan sumber satwa, dan pedagang satwa di pasar burung. Selanjutnya data-data tersebut akan dikirimkan ke pengolahan informasi WCU untuk dianalisa.

WCU in mid-year 2007 launch MARS-NET (Markets Survey Networking) program. MARS-NET is collaborative program between WCU and volunteers spreads in big cities in Indonesia. By monthly based, volunteers will collect data of trade volume, prizes, species, sources, and traders in market. The data collected than transferred to WCU information center to analyze.

“Kami beruntung sekali bisa bekerjasama dengan para volunteer untuk melakukan monitoring di pasar burung. Apalagi mereka punya dasar identifkasi satwa sehingga memudahkan program ini,”Kata Dwi Nugroho A, Koordinator WCU di Bandarlampung. Sampai dengan Bulan Oktober 2007, jaringan pemantuan pasar burung telah dilakukan di 4 kota, yaitu Medan, Bandarlampung, Yogyakarta, dan Surabaya. Di Bulan November ini, para volunteer di Jakarta, Bontang, Balikpapan, Palembang, dan Banda Aceh juga siap melakukan monitoring, tambah Dwi.

Siamang%20di%20Pasar%2017%20Ilir WCU Membentuk Jaringan Monitoring Pasar Burung (Mars Net) Di Indonesia“We are very lucky to joint with volunteers in market monitoring. They have skill to identify wildlife in market, so it make them more easy to understand their job,” said Dwi Nugroho A, WCU Coordinator in Lampung. Until October 2007, 5 markets in 4 big cities including Medan, Bandarlampung, Yogyakarta, and Surabaya were under volunteer monitoring. In November 2007, volunteers in Jakarta, Bontang, Balikpapan, Palembang, and Banda Aceh ready to monitor markets, Dwi added.

WCU ingin mendapatkan data akurat berapa banyak volume perdagangan yang terjadi pasar-pasar burung utama di Indonesia. Volume perdagangan dapat digunakan untuk deteksi dini terhadap tingkat keterancaman suatu spesies akibat perdagangan yang tidak terkendali. Selain itu, dengan melakukan monitoring, akan dapat diamati pula satwa-satwa dilindungi yang masih diperjualbelikan karena perdagangan satwa dilindungi di pasar burung hingga saat ini masih terus berlangsung. Tujuan jangka panjangnya adalah data perdagangan dapat dimanfaatkan oleh pemerintah/aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan hukum guna mencegah kepunahan satwa dilindungi akibat perdagangan di pasar burung.(WCU/Dwi)

The aim of this program is to get accurate data of wildlife trade volume in Indonesia markets. Volume of wildlife trade will use as early detecting to measure level of threatened at specific species. This approach also will use to detect of over exploitation of hunting, trade, and demand. By routine monitoring and investigation, protected wildlife trade also covered by volunteers. By follow up of the data to government, especially on protected wildlife trade will raising law enforcements and reduce protected wildlife trade in legal markets. (WCU/Dwi)

home mail this post print this post share this post back